Memaknai Self-Acceptance di Era Media Sosial

Berbicara tentang self-acceptance, sering dikaitkan dengan kemampuan untuk menghargai diri sendiri secara layak. Padahal, cakupan self-acceptance sendiri lebih luas. Tidak hanya bisa menerima kelebihan diri saja, namun juga dapat menerima dan merangkul apa yang menjadi kekurangan kita secara tulus. Kemampuan untuk menerima diri apa adanya ini sangat dibutuhkan di jaman sekarang mengingat perkembangan media sosial kian masif. Di dunia maya, orang berlomba-lomba memamerkan dirinya yang sempurna tanpa cela untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

When you don’t accept yourself unconditionally

Jika tidak bisa mempraktikkan self-acceptance di era digital ini, maka kita akan sering membandingkan diri sendiri dengan seseorang di media sosial yang kita anggap ‘lebih beruntung’. Akhirnya muncul perasaan khawatir dan cemas yang berlebihan. Mengapa kita tidak seberuntung mereka?

Jika sudah pada level ini, kita perlu hati-hati, jangan sampai yang kita rasakan adalah Social Media Anxiety Disorder atau SMAD, sindrom yang berhubungan dengan kecemasan akibat penggunaan media sosial. yang dapat mempengaruhi psikis dan fisik seseorang. Mereka yang terjerat SMAD kerap membandingkan diri dengan citra orang lain yang menyebabkan turunnya kepercayaan diri, kecenderungan membenci orang lain dan diri sendiri, serta rasa cemas berlebihan akan penilaian orang lain. Jika ia menemukan komentar negatif mengenai dirinya di media sosial maka akan membuatnya semakin cemas. Bagi mereka, menampilkan persona yang diterima dan dipuji orang lain (meskipun palsu) adalah hal yang menenangkan.

Seberapa penting kita perlu menerima diri sendiri?

Well, bisa dibayangkan, ngga sih kalau kita terlalu sibuk menjadi orang lain, where it’s not trully who you are? Sepertinya kok mustahil ya dan pasti bikin stres, hehehe. Dengan menerima diri sendiri, kita akan mampu berdamai dengan kondisi dan apa yang ada pada diri kita, baik itu kelebihan maupun kekurangan. Namun ada yang menganggap bahwa self-acceptance mengajarkan kita untuk tidak berkembang karena terlalu berserah diri pada keadaan. Kunci dari self-acceptance adalah ikhlas menerima keadaan secara utuh. Kita perlu sadar bahwa ada hal yang dapat kita ubah dan optimalkan, dan ada hal-hal yang perlu kita terima dengan lapang dada dengan dasar pemahaman bahwa tidak semua hal di dunia ini dapat kita kontrol.

Lalu bagaimana agar kita mulai berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain di era media sosial?

It might sounds ‘bit cheesy, but we need to know that setiap insan terlahir dengan keunikannya masing-masing. Pengalaman dan perjalanan hidup yang dimiliki pun sangat personal dan punya privilege yang juga tidak bisa dibandingkan oleh sesama individu. Mengutip dari tulisan Hanifa Ambadar, CEO Female Daily di akun instagram pribadinya,” The people I’ve met, the experiences I have been exposed to, the good, the bad, the struggles are components that make me essentially ME,

Kita juga perlu mengingat bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bad things akan berjalan beriringan dengan good things. Terimalah apa yang menjadi kekurangan kita. Dengan menerimanya, kita tahu apa yang harus diperbaiki tanpa harus merasa minder. And for your strength, just keep it up and do your best!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *