CARA KOREA SELATAN MENCINTAI BUDAYANYA SENDIRI MELALUI FILM, PATUT KITA TIRU!

Photo Courtesy of Den Geek

Sebagai negara monokultural, budaya adalah unsur penting bagi Korea Selatan. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai alat diplomasi. Dengan diplomasi budaya, Korea Selatan berusaha untuk membentuk citra yang positif di dunia internasional. Ada banyak jenis Korean Wave, salah satunya adalah melalui drama TV seri atau yang biasa disebut drama Korea. Tentunya kita sudah familiar dengan genre film satu ini. Bagaimana tidak, peminatnya di Indonesia cukup banyak, bahkan mencangkup lintas gender dan usia. 

Membahas drama Korea seakan tidak pernah habisnya. Kali ini, Wewomen mengajak kamu untuk mengetahui sejarah awal mula hadirnya Korean Wave dan perjalanannya hingga berhasil mendapatkan ‘panggungnya sendiri’ di industri hiburan internasional.

Salah satu cara pemerintah Korea Selatan menangani ‘krismon’

Seperti yang dilansir Deutsche Welle (DW), pada tahun 1998, pemerintah Korea Selatan aktif mempromosikan drama Korea, film, dan musik pop sebagai salah satu solusi krisis ekonomi.

Perlahan, masyarakat dunia tertarik untuk mencoba makanan khas Korea, tamasya ke negaranya dan membeli beragam merek rumah tangganya. Gelombang budaya pop ini dikenal sebagai Hallyu dan dimulai saat kegemaran terhadap budaya tradisional dan modern Korea Selatan populer di Cina.

Photo Courtesy of The Talon

Ranny Rastati, peneliti budaya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa pada tahun 1990-an saat merebaknya J-Pop dari Jepang, penonton hanya bisa menikmati tontonan melalui DVD bajakan atau film TV yang di-dubbing namun kini film Korea bisa ditonton menggunakan HP dan disebar lewat internet, media sosial, dan media live streaming seperti Netflix sehingga promosinya lebih mudah.

“Buat Korea Foundation, industri budaya pop Korea itu adalah gerbang masuk untuk mengenalkan orang-orang dari negara lain terhadap Korea Selatan. Imbasnya berupa perubahan pandangan pada merek Korea Selatan. Awalnya mereka pakai HP Cina atau iPhone karena pengaruh budaya pop, akhirnya berubah menjadi Samsung,” kata Ranny Rastati kepada DW Indonesia. 

Kini, produsen elektronik Samsung adalah penjual terbesar telepon seluler dunia yang berhasil meraih 22% pangsa pasar dunia pada kuartal pertama tahun 2021. Film layar lebar asal Korea Selatan seperti Parasite dan Minari juga sukses memenangkan banyak penghargaan di ajang film internasional.

“Dari drama Korea ini, genrenya semakin banyak. Pada tahun 2000-an awal ketika drama Korea masuk Indonesia, lebih banyak kisah percintaan dan roman picisan namun sekarang ada berbagai macam variasi seperti film thriller dan action buat para lelaki. Itu merangkul penonton yang lebih besar. Pada awalnya, drama Korea kesannya hanya untuk ibu-ibu paruh baya, ibu rumah tangga, anak-anak remaja sekarang pangsa pasarnya lebih luas tidak hanya wanita tapi bapak-bapak bisa nonton.”

Yang membuat salut adalah ketika para sutradara dan produser drama Korea ini tidak kehabisan ide untuk turut mencintai dan mempromosikan kebudayaan negaranya sendiri. Tidak hanya itu, produk-produk dalam negeri juga mereka support habis-habisan di setiap film/drama yang mereka buat. 

Squid Games ngajarin kita bagaimana mereka bersenang-senang waktu kecil

Photo Courtesy of Netflix

Film buatan Korea Selatan ini lagi ngehits banget, bahkan jadi trending di Netflix Indonesia. Penulis naskahnya patut diacungi jempol karena dapat memberikan cerita yang berbeda disaat penonton mulai jenuh dengan cerita biru-sendu ala-ala Korea. Di film ini, kita diberi wawasan tentang beragam permainan tradisional anak-anak Korea Selatan, seperti kelereng, lampu merah lampu hijau, tarik perang, sugar honeycombs, dan masih banyak lagi. 

Penulis naskah berhasil mencekoki kita dengan budaya mereka dengan cara yang tidak membosankan. Walau film ini bergenre thriller, tapi tetap saja kita betah nonton, karena film ini penuh dengan warna yang bikin kita gemes!

Song Kang berhasil bikin kita ngiler sama pizza ala Korean style

Selain akting Song Kang yang emang berhasil bikin kita lebih ‘greget’ lihat drakor Nevertheless, tapi scene dia makan pizza yang udangnya gemuk-gemuk itu bikin perut keroncongan ga, sih. Song Kang yang di film ini disetting begitu kharismatik, entah mengapa jadi cocok aja gitu bikin iklan pizza Alvolo jadi trending. Seperti yang ditulis netijen di twitter:

 ‘I never wanted a pizza so bad until now (emoticon senyum)’ by @tiqasya

Semua pemain Nevertheless entah mengapa terlihat memiliki handphone dengan merk yang sama

Kalian sadar ngga sih, kalau pemain peran di semua drakor (ngga cuma Nevertheless aja), mereka pakai handphone dengan brand yang sama, yaitu Samsung. Tidak mengherankan, sih karena Samsung memang berasal dari Daegu, Korea Selatan. Termasuk Yu Na Bi yang banyak banget adegan dia lagi pegang handphone Samsung keluaran terbaru dengan warna yang unyu. 

Itu hanya segelintir saja bagaimana pembuat film dari negeri Gingseng ini berhasil memperkenalkan budaya dan produk nya sendiri ke industri hiburan. Indonesia sebagai salah satu negara besar di Indonesia, tentunya bisa melakukan hal yang sama seperti Korea Selatan: mencintai kebudayaan negara sendiri, kuy!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *