INI CARA MENYIKAPI SECARA BIJAK JIKA KAMU BAGIAN DARI GENERASI SANDWICH

Kamu tau istilah sandwich generation? Sandwich Generation atau generasi sandwich adalah mereka yang memiliki beban finansial terhimpit antara dua generasi. Menjadi generasi sandwich, orang dewasa yang harus menanggung hidup orang tua sekaligus anak-anaknya memang penuh tantangan. Generasi ini dianggap terhimpit dalam berbagai problematika. Selain harus menanggung beban finansial, generasi ini harus pandai mengelola konflik yang berpotensi terjadi dalam keluarga.

BPS mencatat pada tahun 2019 di Indonesia, persentase lansia yang tinggal dalam satu rumah berisikan 3 generasi mencapai 40,64%. Seseorang tanpa sengaja berada dalam situasi yang mengharuskan mereka membiayai kebutuhan diri sendiri, orangtua, dan anak-anaknya.

Bukan cuma kebutuhan sehari-hari aja lho, termasuk juga biaya kesehatan, pendidikan, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya. Berat ya jadi generasi sandwich? Yang pasti nggak gampang, dan mereka yang berada di situasi ini nggak bisa menghindarinya.

Karena itu hal terbaik bukan menyesali, melainkan berusaha mengatur finansial sebaik mungkin agar mampu menjawab kebutuhan hidup diri sendiri, orangtua, dan juga anak selama hidup.

Nah, buat kamu yang merasakan sebagai generasi sandwich, ada beberapa tips dari Top Karir agar urusan finansial dan kehidupanmu bisa berjalan dengan baik.

Kelola keuanganmu dengan bijak

Buat kamu yang belum terbiasa mengatur keuangan, kamu mulai dengan mencatat arus pengeluaran dan pemasukan harian rumah tangga, begitupun nominal yang perlu dikeluarkan untuk anak dan orang tua. Catatan ini berguna agar nantinya cashflow dapat dievaluasi dan dirumuskan untuk membuat perencanaan anggaran yang lebih matang.

Kelola juga penghasilanmu, bisa dengan menerapkan formula 50/30/20 atau 40/30/20/10 untuk mengelola gaji. Pada formula 50/30/20, 50% untuk kebutuhan pokok seperti makan, tagihan listrik, air, belanja bulanan, dan lainnya. 30%-nya untuk memenuhi kebutuhan akan hiburan/membeli barang yang diinginkan. Dan 20% sisanya untuk ditabung.

Sedangkan rumus 40/30/20/10. 40%-nya untuk kebutuhan primer, 30% untuk tabungan dan dana darurat, 20% untuk hiburan, dan 10% untuk beramal. Pilih formula yang paling cocok buat kamu. Apapun formula pengelolaan yang dipakai, usahakan menabung di awal, kalau di akhir biasanya sih akan terpakai untuk keperluan lain. Intinya sisih sebelum sisa.

Proteksi diri dan keluarga dengan asuransi

Kita nggak pernah tau apa yang terjadi pada diri dan keluarga kita di masa mendatang, untuk berjaga jaga, asuransi bisa jadi salah satu bentuk investasi jangka panjang yang bisa jadi pertimbangan. Bukan cuma asuransi jiwa dan kesehatan aja lho, kamu juga bisa membuat tabungan untuk asuransi biaya pendidikan anak. 

Mencari penghasilan tambahan

Untuk membantu mencukupi kebutuhan pribadi, orangtua, dan anak, kamu bisa coba dengan menambah sumber penghasilan. Bisa dengan freelancer, tutor, berwirausaha, atau yang lebih mudah jadi reseller karena nggak perlu mikirin ongkos produksi.

Tapi ingat ya jangan sampai pekerjaan tambahanmu memotong banyak waktu untuk keluarga. Kesehatanmu tetap yang paling utama, jangan terlalu keras bekerja sampai lupa menjaga diri. Dan yang nggak kalah pentingnya adalah berkomunikasi dengan keluarga. Bicarakan dengan jujur persoalan finansialmu.

Kalau kamu masih punya adik atau kakak, bicara dengan mereka untuk bekerja sama membantu mencukupi kehidupan orangtua. Sedangkan buat kamu yang anak tunggal coba deh kasih pengertian ke orangtua akan kemampuan finansial dan kebutuhan keluarga yang harus ditanggung. Dengan begitu orangtua bisa memaklumi, tidak berharap lebih, atau menilaimu pelit karena memberi dengan jumlah yang sedikit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *