“SETIAP ORANG DILAHIRKAN SEBAGAI PEMIMPIN, TERGANTUNG KITA MENGAMBIL KESEMPATAN ITU ATAU TIDAK,” Sufintri Rahayu

Kami sepakat bahwa generasi anak muda saat ini sangat unggul dalam berpikir secara kritis dan punya kontribusi yang besar terhadap pembangunan Indonesia. Namun setelah kami menghabiskan satu jam lebih ngobrol dengan Sufintri Rahayu, Director Corporate Affairs of Nestle Indonesia sekaligus praktisi Public Relation yang sudah berkecimpung di dunia professional lebih dari 20 tahun, kami merasa harus lebih banyak belajar dari para senior. Kami memanggilnya Kak Fifin. Begitu banyak pelajaran hidup yang kami dapat dari beliau. Wewomen.id ingin kamu juga mendapatkan positive vibes dari seorang Kak Fifin. Let’s check this out!

Apa yang membuat Kak Fifin begitu mencintai pekerjaan yang Mbak jalani selama lebih dari 20 tahun?

Aku menjalani hidup seperti air mengalir aja.There is no particular ambition that I want to have during building my career. But I love what I am doing. Karena aku mencintai pekerjaanku, aku punya keinginan untuk selalu belajar mengingat ilmu komunikasi juga sebuah ilmu yang selalu berkembang. Sewaktu aku seusia kamu, aku ngga kepikiran mau jadi pemimpin di suatu perusahaan. Aku hanya be the best version of myself everyday. Setiap hari kita melakukan kesalahan karena kita manusia. I learned my mistakes every night, dan aku selalu belajar dari kesalahan-kesalahan yang aku buat, sehingga aku ngga buat kesalahan yang sama di kemudian hari. Menurutku, jika kita selalu punya keinginan belajar, maka semesta akan mendukung karir kita. Sampai detik ini pun aku ngga ada kepikiran, tuh buat pindah jalur ke pekerjaan yang lain. 

Pengorbanan apa yang Kak Fifin pernah lakukan sepanjang perjalanan karir Kakak, terutama sebagai seorang wanita?

Dalam hidup ini ada sesuatu yang bisa kontrol, misal pikiran kita sendiri, bagaimana kita bersikap dengan dunia luar, dan ada beberapa hal yang ngga bisa kontrol, misal jalan hidup, lingkungan kita, persepsi orang terhadap kita, dan takdir. Pengorbanan yang aku jalani adalah hal-hal yang ngga bisa aku kontrol tentunya. Namun aku sangat bersyukur memiliki lingkungan keluarga yang support perkembangan aku. I cannot say being full-time mom is not challenging, mungkin challenge nya saja yang berbeda. Hanya menurutku ibu yang bekerja harus pintar-pintar membagi role. Misalnya kita punya pekerjaan yang long-hours, then kita harus bangun lebih pagi dan tidur lebih malam, sehingga kita masih bisa mengurus keluarga. Tapi aku rasa itu bukan pengorbanan, itu bagaimana kita mengubah gaya hidup kita saja. I also spend at least 2 hours of quality time with myself. Pengorbanan lainnya adalah kita ngga bisa membahagiakan semua orang ketika menjadi pemimpin. Keputusan yang kita buat, tidak semua orang akan suka. I might not be a nice boss, but I try to be a good boss aja. Waktu awal-awal jadi pemimpin, banyak yang ngga suka sama aku. Tentu itu membuat hatiku ngga nyaman, saya luruskan niat aja bahwa di dunia pekerjaan, kita cukup bersikap profesional saja. I’ve been a leader for more than 15 years, dan aku menyadari tidak semua orang di dalam dunia pekerjaan bisa menjadi teman kita. Yang bisa kita lakukan adalah maintain our colleagues sesuai jalurnya aja. 

Siapa sosok perempuan yang sangat menginspirasi Kakak?

Kita sudah tidak lagi melihat sosok itu perempuan atau laki-laki, tapi saya melihatnya lebih ke kesetaraan gender. Menurut saya, kesetaraan gender adalah bagaimana seseorang tanpa melihat gendernya apa, dia bisa mendapatkan kesempatan sesuai dengan kapasitasnya. Misal, karena alasan women empowerment, saya lebih memprioritaskan anak buah saya yang perempuan. No, I’m always fair. Jadi saya ngga punya sosok yang hanya perempuan saja yang saya jadikan idola. Tapi saya paling suka pasangan Presiden Amerika Serikat Barack dan Michelle Obama. Buat saya mereka adalah role model yang ngga bisa dipisahkan. Mereka bisa ada di posisi seperti sekarang karena mereka selalu satu langkah. Kalo dari Indonesia sendiri, saya sangat mengagumi pasangan Pak Joko Widodo dan Ibu Iriana. Di balik kesuksesan Pak Jokowi dalam memimpin Indonesia, ada sosok Ibu Iriana yang selalu mendukung. Yang terakhir, saya juga mengagumi sosok Nabi Muhammad dan istrinya Siti Khadijah. Siti Khadijah, seperti yang kita tahu berusia lebih tua dibanding Nabi Muhammad. Dan beliau lebih sukses dibanding Nabi Muhammad. She was the first career woman in our history. Bersama Nabi Muhammad, Siti Khadijah membuat bisnis bersama yang akhirnya sangat sukses. Bahkan jika kita bicara social entrepreneurship, Siti Khadijah di masa itu sudah melakukannya. 

Pelajaran hidup apa yang paling berkesan selama Kak Fifin menjadi seorang pemimpin wanita?

Di dunia pekerjaan, saya sangat bersyukur hidup di Indonesia pada era saat ini dimana orang sudah sadar akan kesetaraan gender dan menghargai perempuan sebagai pemimpin. Saya juga bersyukur mempunyai leader yang sangat support saya. Bahkan mereka sangat menghargai pemikiran-pemikiran saya. I also would like to say thank you to my bosses and mentors, terutama yang laki-laki, karena mereka sangat menghargai saya sebagai perempuan dan saya ngga pernah merasa dikecilkan. Pelajaran yang kedua adalah bagaimana mengatur anak buah. Selama menjadi pemimpin, saya belajar bahwa 80% waktu saya lebih banyak digunakan untuk developing my team, sedangkan 20% nya untuk building strategy. Pelajaran yang ketiga adalah menjadi seorang ibu yang juga berkarir merupakan perjalan yang luar biasa. Saya banyak melalui pengorbanan dan juga mendapatkan kebahagiaan. Anak pertama saya meninggal sewaktu saya bekerja di British Petroleum. Dia lahir prematur, dan di usia nya yang kedua, dia meninggal. Dari sini saya belajar banyak, bahwa hidup kita ga melulu tentang dunia, tapi juga harus memikirkan kehidupan di akhirat.  

Photo Courtesy of Sufintri Rahayu

Kegiatan apa yang paling Kak Fifin sukai ketika tidak sedang bekerja?

Saya paling suka memasak, apalagi ketika harus menjalani working from home seperti saat ini, saya mengalihkan kejenuhan saya di antara jadwal virtual meeting yang padat dengan cara memasak di rumah. Selain itu, saya juga suka travelling dengan keluarga. Sebulan sekali kita pasti menyempatkan waktu buat bounding antar keluarga dengan cara liburan bersama. 

Apa nasihat yang paling berkesan yang pernah didapat dari mentor Kak Fifin?

Bagi seorang pelari, KM 21 merupakan titik terberat. Biasanya di titik ini kamu udah kehabisan tenaga yang bikin mental kamu drop. Tapi disisi lain jika seorang pelari sudah ada di titik ini, dia sudah melewati satu fase yang sulit. Nah, di titik ini, biasanya keputusan ada di tangan kamu, entah kamu mau melanjutkan atau menyerah. Jika kamu lanjut, maka kamu akan jadi pemenang. Di setiap aspek kehidupan, kamu akan menemukan titik KM 21 ini. Jadi ketika kita ada di titik ini, please remember that there is not only you who passing it, tapi orang lain juga. 

Pernahkah Kak Fifin mendapatkan asumsi berbasis gender yang diarahkan untuk Kak Fifin selama bekerja? Bagaimana Kak Fifin menanggapinya?

You are what you thinking of. Jika kita berpikir bahwa kita itu berbeda, maka orang lain juga akan menilai hal yang sama seperti yang kamu pikirkan. Mungkin saya pernah mendapatkan komentar seperti itu, tapi saya ngga terlalu ambil pusing, karena pada intinya saya melihat bahwa saya ini sama kok kedudukannya dengan laki-laki.  

Apa resiko terbesar yang pernah Kak Fifin ambil sebagai seorang profesional?

Ketika anak saya mulai sakit-sakitan sewaktu saya bekerja di British Petroleum. Sesungguhnya saya senang sekali bisa bekerja di BP, namun saya harus berhenti bekerja karena harus sepenuhnya mengurus anak saya. Selama 6 bulan itu saya berhenti berkarir dan berpikir bahwa tidak akan kembali bekerja. Waktu itu saya coba pasrah aja sama Tuhan, namun setelah itu kesempatan yang lebih besar selalu datang ke saya.

Bagaimana Kak Fifin menghadapi self-doubt?

Sebagai seorang leader, saya selalu membuat keputusan berdasarkan data. Cara lainnya adalah saya selalu bertanya kepada orang yang tepat. Intuisi saya sebagai seorang leader juga bermain ketika harus dihadapkan oleh kepentingan mana yang harus didahulukan dan mana yang tidak. Semua orang bisa menjadi leader karena pada dasarnya manusia adalah khalifah di dunia ini. Tergantung apakah kita mau mengambil kesempatan menjadi seorang leader atau tidak. Bisa dilihat dari bagaimana kita mengatur waktu untuk diri sendiri. Hindari penundaan atau istilah kerennya procrastination, hehehe. 

Leave a Comment

Your email address will not be published.